Instalasi Kabel Bawah Tanah: Metode, Tahapan Pemasangan, Pengujian, dan Pemeliharaannya

Instalasi kabel bawah tanah merupakan metode penyaluran tenaga listrik dengan menempatkan kabel di bawah permukaan tanah, baik secara langsung, melalui pipa pelindung, duct bank, maupun terowongan kabel.

Instalasi kabel bawah tanah merupakan metode penyaluran tenaga listrik dengan menempatkan kabel di bawah permukaan tanah, baik secara langsung, melalui pipa pelindung, duct bank, maupun terowongan kabel. Metode ini banyak digunakan di kawasan perkotaan, industri, pembangkit, gardu induk, bandara, pelabuhan, dan wilayah dengan keterbatasan ruang.

Dibandingkan saluran udara, kabel bawah tanah memiliki tampilan yang lebih rapi dan terlindungi dari beberapa gangguan eksternal seperti angin kencang, pohon tumbang, dan sambaran langsung pada konduktor. Namun, proses perencanaan, pemasangan, pengujian, pencarian gangguan, dan perbaikannya lebih kompleks.

Instalasi tidak cukup dilakukan dengan menggali tanah lalu memasukkan kabel. Setiap proyek harus mempertimbangkan kapasitas penghantar, pelepasan panas, kondisi tanah, jalur utilitas, kekuatan mekanis, radius tekuk kabel, tegangan penarikan, sistem grounding, sambungan, drainase, serta keselamatan kerja.

Apa Itu Kabel Bawah Tanah?

Kabel bawah tanah adalah penghantar listrik berisolasi yang dirancang untuk dipasang di dalam tanah, duct, terowongan, atau sistem pelindung lainnya.

Tidak seperti konduktor pada jaringan udara yang umumnya menggunakan udara sebagai bagian dari sistem isolasinya, kabel bawah tanah memiliki lapisan isolasi dan pelindung yang lebih lengkap. Lapisan tersebut menjaga konduktor dari kelembapan, tekanan mekanis, korosi, gangguan listrik, serta pengaruh lingkungan.

Kabel bawah tanah dapat digunakan pada berbagai tingkat tegangan, mulai dari jaringan distribusi tegangan rendah dan menengah hingga sistem transmisi tegangan tinggi serta ekstra tinggi.

Untuk kabel tenaga dengan isolasi ekstrusi pada tegangan di atas 30 kV sampai 150 kV, metode pengujian dan persyaratannya dibahas dalam IEC 60840. Sementara itu, sistem kabel di atas 150 kV sampai 500 kV dibahas dalam IEC 62067. IEC 60840 dan IEC 62067

Fungsi Instalasi Kabel Bawah Tanah

Instalasi kabel bawah tanah memiliki beberapa fungsi penting dalam sistem kelistrikan.

Menyalurkan Energi Listrik

Fungsi utamanya adalah menyalurkan energi dari pembangkit, gardu induk, atau sumber listrik menuju pusat beban secara aman dan efisien.

Menghubungkan Gardu Induk

Kabel bawah tanah dapat digunakan sebagai penghubung antargardu induk, terutama di kawasan perkotaan yang sulit menyediakan ruang untuk pembangunan tower transmisi.

Menjaga Keandalan Sistem

Dalam konfigurasi tertentu, jalur kabel bawah tanah dapat menjadi bagian dari sistem interkoneksi atau jalur alternatif. Ketika satu jalur mengalami gangguan, beban dapat dialihkan melalui jalur lain selama kapasitas sistem memungkinkan.

Melayani Kawasan dengan Ruang Terbatas

Kawasan industri, pusat kota, bandara, fasilitas vital, dan area komersial sering memiliki keterbatasan ruang. Kabel bawah tanah memungkinkan penyaluran listrik dilakukan tanpa membangun tower di sepanjang jalurnya.

Mendukung Estetika dan Tata Ruang

Karena sebagian besar komponen berada di bawah tanah, kabel tidak mengganggu pemandangan dan tata ruang permukaan. Hal ini menjadi pertimbangan penting pada kawasan perkotaan, wisata, dan lingkungan dengan nilai visual tertentu.

Jenis Kabel Bawah Tanah

Pemilihan kabel harus menyesuaikan tingkat tegangan, kapasitas arus, kondisi lingkungan, metode pemasangan, dan kebutuhan proteksi.

Kabel Tegangan Rendah

Kabel tegangan rendah digunakan untuk menyalurkan listrik menuju bangunan, fasilitas komersial, penerangan, dan beban bertegangan rendah lainnya.

Kabel Tegangan Menengah

Kabel tegangan menengah umum digunakan untuk jaringan distribusi, kawasan industri, gedung besar, pembangkit, dan penghubung menuju transformator distribusi.

Kabel Tegangan Tinggi

Kabel tegangan tinggi digunakan untuk sistem transmisi bawah tanah dan penghubung gardu induk. Sistem ini membutuhkan desain termal, sambungan, terminasi, grounding, bonding, dan pengujian yang lebih kompleks.

Kabel Berisolasi XLPE

Cross-Linked Polyethylene atau XLPE merupakan material isolasi yang banyak digunakan pada kabel tenaga modern. XLPE memiliki karakteristik listrik, termal, dan mekanis yang sesuai untuk berbagai tingkat tegangan.

Namun, kualitas kabel tidak hanya ditentukan oleh isolasinya. Kinerja sistem tetap dipengaruhi oleh desain konduktor, screen, sheath, sambungan, terminasi, pemasangan, dan kondisi operasional.

Struktur Kabel Bawah Tanah

Kabel bawah tanah umumnya terdiri atas beberapa lapisan utama.

1. Konduktor

Konduktor merupakan bagian yang membawa arus listrik. Material yang umum digunakan adalah tembaga atau aluminium.

Ukuran konduktor ditentukan berdasarkan:

  • Kapasitas arus yang dibutuhkan.
  • Panjang jalur.
  • Rugi-rugi daya.
  • Kemampuan menahan arus hubung singkat.
  • Suhu operasi maksimum.
  • Kondisi pemasangan.
  • Pertimbangan teknis dan ekonomi.

2. Conductor Screen

Lapisan semikonduktif ini membantu meratakan medan listrik di sekitar permukaan konduktor. Permukaan medan yang lebih merata mengurangi konsentrasi tegangan yang dapat mempercepat degradasi isolasi.

3. Lapisan Isolasi

Isolasi memisahkan konduktor bertegangan dari bagian luar kabel. Ketebalan dan jenis isolasi disesuaikan dengan tingkat tegangan serta desain kabel.

4. Insulation Screen

Insulation screen ditempatkan pada bagian luar isolasi untuk membantu mengendalikan distribusi medan listrik dan menyediakan permukaan yang sesuai bagi lapisan screen logam.

5. Metallic Screen atau Metallic Sheath

Lapisan logam dapat berfungsi sebagai jalur arus gangguan, pelindung medan listrik, dan bagian dari sistem grounding.

Desain sheath harus memperhitungkan arus induksi, tegangan sheath, sistem bonding, dan kerugian listrik yang dapat memengaruhi kapasitas penghantar.

6. Water Blocking Layer

Lapisan ini digunakan untuk menghambat masuk atau menyebarnya air di sepanjang konstruksi kabel. Keberadaannya penting karena kelembapan dapat memengaruhi umur isolasi dan keandalan sistem.

7. Armour

Armour memberikan perlindungan mekanis terhadap tekanan, benturan, dan tarikan. Penggunaannya bergantung pada jenis kabel dan metode pemasangan.

8. Outer Sheath

Outer sheath merupakan lapisan terluar yang melindungi kabel dari kelembapan, bahan kimia, korosi, gesekan, dan pengaruh lingkungan.

Metode Instalasi Kabel Bawah Tanah

Metode pemasangan harus dipilih berdasarkan kondisi lokasi, kapasitas kabel, jumlah sirkuit, tingkat tegangan, akses pemeliharaan, dan rencana pengembangan.

Direct Buried

Pada metode direct buried, kabel diletakkan langsung di dalam tanah dengan lapisan dasar dan pelindung yang sesuai.

Kabel biasanya ditempatkan di atas bedding material yang telah diratakan, kemudian dilindungi menggunakan pasir urug, pelat pelindung, warning tape, dan penanda jalur.

Metode ini relatif sederhana, tetapi akses perbaikan membutuhkan penggalian ulang. Risiko gangguan dari aktivitas konstruksi di kemudian hari juga harus dikendalikan melalui dokumentasi jalur yang akurat.

Duct Bank

Duct bank merupakan sistem pipa atau conduit yang disusun secara teratur, kemudian dapat diperkuat atau dibungkus menggunakan beton.

Kabel ditarik melalui conduit setelah konstruksi duct bank selesai. Sistem ini memberikan perlindungan mekanis yang baik dan memudahkan penambahan atau penggantian kabel selama jalur duct masih tersedia.

Duct bank banyak digunakan pada gardu induk, kawasan industri, pembangkit, dan jalur yang melewati area dengan aktivitas tinggi.

Cable Trench

Cable trench adalah saluran khusus yang dibangun untuk menempatkan kabel. Trench dapat dilengkapi cable support, penutup, drainase, dan pemisah antarkabel.

Metode ini memberikan akses inspeksi yang lebih mudah, tetapi perlindungan terhadap air, kebakaran, hewan, dan akses tidak sah harus direncanakan dengan baik.

Cable Tunnel

Terowongan kabel digunakan untuk menampung banyak kabel berkapasitas besar. Sistem ini memungkinkan inspeksi dan pemeliharaan dilakukan tanpa menggali permukaan.

Cable tunnel membutuhkan investasi besar serta sistem ventilasi, penerangan, drainase, deteksi kebakaran, komunikasi, akses evakuasi, dan pengendalian ruang terbatas.

Horizontal Directional Drilling

Horizontal Directional Drilling atau HDD digunakan untuk memasang jalur pipa kabel tanpa melakukan penggalian terbuka sepanjang lintasan.

Metode ini dapat digunakan untuk melintasi jalan utama, rel kereta, sungai, bangunan, atau area yang tidak memungkinkan dilakukan open trench. Pelaksanaannya membutuhkan survei bawah permukaan dan pengendalian arah pengeboran yang akurat.

Perencanaan Instalasi Kabel Bawah Tanah

Perencanaan menjadi tahap penting karena kesalahan desain dapat menyebabkan kapasitas kabel menurun, suhu berlebih, kegagalan sambungan, atau kesulitan pemeliharaan.

Analisis Kapasitas Arus

Kemampuan kabel membawa arus atau ampacity dipengaruhi oleh:

  • Luas penampang konduktor.
  • Material konduktor.
  • Jenis dan ketebalan isolasi.
  • Suhu lingkungan.
  • Kedalaman penanaman.
  • Jarak antarkabel.
  • Konfigurasi kabel.
  • Tahanan termal tanah.
  • Metode bonding.
  • Jumlah sirkuit.
  • Keberadaan sumber panas lain.

IEC 60287 menyediakan metode perhitungan kapasitas arus dan rugi-rugi pada kabel. Kondisi pemasangan seperti kabel yang ditanam langsung, berada dalam duct, trough, pipa baja, atau udara dapat memengaruhi hasil perhitungan. IEC 60287

Survei Jalur

Survei dilakukan untuk mengetahui kondisi eksisting di sepanjang rute pemasangan.

Pemeriksaan mencakup:

  • Jalan dan akses proyek.
  • Pipa air.
  • Pipa gas.
  • Kabel telekomunikasi.
  • Saluran drainase.
  • Fondasi bangunan.
  • Struktur bawah tanah.
  • Kondisi muka air tanah.
  • Jenis tanah.
  • Titik persilangan.
  • Area dengan risiko longsor atau banjir.

Informasi utilitas eksisting harus diverifikasi melalui dokumen, deteksi bawah tanah, dan penggalian uji bila diperlukan.

Analisis Termal Tanah

Panas yang dihasilkan kabel harus dapat dilepaskan menuju lingkungan. Tanah dengan tahanan termal tinggi dapat menghambat perpindahan panas dan menurunkan kemampuan kabel membawa arus.

Pada kondisi tertentu, digunakan thermal backfill dengan karakteristik yang lebih terkendali agar pelepasan panas berlangsung lebih baik.

Perencanaan Joint dan Manhole

Panjang kabel dari pabrik dan kapasitas cable drum membatasi panjang setiap segmen. Jika jalur lebih panjang, diperlukan joint atau sambungan.

Lokasi joint harus dipilih dengan mempertimbangkan:

  • Kemudahan akses.
  • Risiko banjir.
  • Ruang kerja.
  • Kondisi tanah.
  • Penempatan link box.
  • Jarak antarsegmen.
  • Keselamatan teknisi.
  • Kebutuhan pengujian dan pemeliharaan.

Perhitungan Penarikan Kabel

Sebelum cable pulling, perlu dilakukan perhitungan tegangan tarik dan tekanan pada tikungan. Hasilnya harus berada di bawah batas yang ditentukan produsen kabel.

Perhitungan tersebut dipengaruhi oleh panjang jalur, berat kabel, koefisien gesekan, jumlah tikungan, sudut tikungan, diameter conduit, dan posisi cable drum.

Radius Tekuk Minimum

Kabel tidak boleh ditekuk melebihi batas minimum yang ditentukan. Tekukan berlebih dapat merusak konduktor, isolasi, metallic sheath, dan outer sheath meskipun kerusakannya tidak langsung terlihat.

Sistem Sheath Bonding

Kabel tegangan tinggi satu inti memiliki metallic sheath yang dapat mengalami tegangan induksi. Karena itu, diperlukan sistem bonding yang tepat.

Single-Point Bonding

Sheath dihubungkan ke tanah pada satu titik. Sistem ini membantu membatasi arus sirkulasi, tetapi dapat menimbulkan tegangan pada ujung sheath yang tidak dibumikan.

Both-End Bonding

Sheath dihubungkan ke tanah pada kedua ujung. Metode ini lebih sederhana, tetapi dapat menghasilkan arus sirkulasi pada sheath yang menambah rugi-rugi dan menurunkan kapasitas kabel.

Cross-Bonding

Cross-bonding membagi jalur kabel ke dalam beberapa bagian dan mengatur hubungan sheath agar tegangan induksi antarbagian dapat saling mengurangi.

Sistem ini banyak dipertimbangkan pada jalur kabel tegangan tinggi yang panjang. Instalasinya membutuhkan joint khusus, link box, grounding, serta pengujian yang teliti.

Tahapan Instalasi Kabel Bawah Tanah

1. Persiapan dan Izin Kerja

Sebelum pekerjaan dimulai, tim harus menyiapkan metode kerja, gambar konstruksi, analisis risiko, izin penggalian, pengaturan lalu lintas, rencana pengangkatan, serta prosedur tanggap darurat.

2. Penentuan Jalur

Jalur ditandai berdasarkan hasil survei dan gambar yang telah disetujui. Seluruh utilitas yang berpotensi bersinggungan harus diidentifikasi sebelum penggalian dilakukan.

3. Penggalian Trench

Penggalian dilakukan berdasarkan lebar, kedalaman, dan elevasi yang telah direncanakan.

Dinding galian harus diperkuat atau dibuat dengan kemiringan aman apabila terdapat risiko longsor. Air yang masuk ke area kerja harus dikendalikan menggunakan sistem dewatering dan drainase.

4. Pemasangan Bedding atau Duct

Pada sistem direct buried, dasar galian diratakan dan diberi material bedding yang sesuai. Pada sistem duct bank, conduit dipasang menggunakan spacer agar jarak serta susunannya tetap konsisten.

Duct harus diperiksa untuk memastikan tidak terdapat penyumbatan, deformasi, sambungan tajam, atau benda yang dapat merusak kabel.

5. Pemeriksaan Cable Drum

Cable drum harus diperiksa sebelum dipindahkan dan digunakan. Pemeriksaan meliputi kondisi drum, nomor kabel, panjang kabel, arah penggulungan, penutup ujung kabel, dan kerusakan akibat pengangkutan.

Drum tidak boleh dijatuhkan atau digulingkan ke arah yang salah karena dapat merusak susunan kabel.

6. Cable Pulling

Kabel ditarik menggunakan winch, pulling rope, cable roller, dan perlengkapan lain yang sesuai.

Selama penarikan, tim harus memantau:

  • Tegangan tarik.
  • Kecepatan penarikan.
  • Posisi roller.
  • Kondisi cable drum.
  • Radius tekuk.
  • Komunikasi antarpetugas.
  • Kondisi kabel saat memasuki conduit.
  • Potensi gesekan dan benturan.

Penarikan harus dihentikan apabila tegangan mendekati batas atau ditemukan kondisi yang dapat merusak kabel.

7. Penataan Kabel

Setelah penarikan selesai, kabel ditata berdasarkan konfigurasi yang direncanakan, seperti flat formation atau trefoil formation.

Jarak antarkabel, clamp, support, dan posisi setiap fasa harus sesuai dengan gambar konstruksi dan perhitungan termal.

8. Jointing

Jointing merupakan salah satu pekerjaan paling kritis. Sambungan harus dikerjakan oleh personel kompeten di lingkungan yang bersih, kering, dan terkendali.

Debu, kelembapan, kesalahan pemotongan, kerusakan permukaan isolasi, kontaminasi, atau pemasangan komponen yang tidak sesuai dapat menyebabkan partial discharge dan kegagalan isolasi.

9. Terminasi Kabel

Terminasi menghubungkan kabel dengan transformator, switchgear, GIS, atau peralatan lain. Pemasangan harus menjaga pengendalian medan listrik dan kekuatan isolasi pada ujung kabel.

Terminasi untuk peralatan GIS tegangan tinggi dapat mengacu pada persyaratan sambungan kabel dan switchgear yang relevan, termasuk IEC 62271-209. IEC 62271-209

10. Grounding dan Bonding

Metallic sheath, armour, link box, serta bagian logam lainnya harus dihubungkan sesuai desain grounding dan bonding.

Kesalahan hubungan dapat menyebabkan tegangan sheath berlebih, arus sirkulasi, peningkatan suhu, atau gangguan terhadap sistem proteksi.

11. Penutupan Trench

Sebelum trench ditutup, dilakukan pemeriksaan posisi kabel, joint, duct, grounding, dan dokumentasi jalur.

Setelah dinyatakan sesuai, trench dapat ditutup menggunakan material urug, pelindung mekanis, warning tape, dan penanda jalur. Pemadatan dilakukan secara bertahap agar kabel dan duct tidak mengalami tekanan berlebih.

12. Dokumentasi As-Built

Posisi kabel, kedalaman, joint, manhole, link box, crossing, dan perubahan selama konstruksi harus dicatat dalam gambar as-built.

Dokumentasi yang akurat sangat penting untuk pemeliharaan, pencarian gangguan, dan mencegah kerusakan akibat penggalian pada masa mendatang.

Pengujian Kabel Bawah Tanah

Pengujian dilakukan pada kabel, sambungan, terminasi, sheath, grounding, dan sistem pendukung sebelum jaringan diberi tegangan.

Jenis pemeriksaan dapat mencakup:

  • Pemeriksaan visual.
  • Verifikasi identitas dan urutan fasa.
  • Pengujian kontinuitas konduktor.
  • Pengukuran tahanan isolasi.
  • Pengujian integritas outer sheath.
  • Pengujian grounding.
  • Pemeriksaan link box.
  • Verifikasi sistem bonding.
  • Pengujian tegangan setelah instalasi.
  • Pemeriksaan partial discharge apabila disyaratkan.
  • Pemeriksaan komunikasi dan sistem proteksi.
  • Pengujian fungsi peralatan terkait.

Metode dan nilai pengujian tidak boleh ditentukan secara sembarangan. Pelaksanaannya harus mengikuti spesifikasi sistem, rekomendasi produsen, tingkat tegangan, standar yang digunakan, dan prosedur proyek.

Risiko Keselamatan dalam Instalasi Kabel Bawah Tanah

Instalasi kabel bawah tanah memiliki risiko yang berbeda dari jaringan udara.

Beberapa risiko utamanya meliputi:

  • Longsornya dinding galian.
  • Pekerja terjatuh ke dalam trench.
  • Tertimpa cable drum.
  • Terjepit kabel atau roller.
  • Putusnya pulling rope.
  • Kontak dengan utilitas aktif.
  • Genangan air.
  • Kekurangan oksigen dalam manhole.
  • Paparan gas berbahaya.
  • Kebakaran di ruang kabel.
  • Tegangan induksi pada metallic sheath.
  • Cedera akibat pengangkatan manual.

Pengendalian keselamatan harus mencakup barricade, akses keluar-masuk galian, pemeriksaan gas, ventilasi, shoring, lifting plan, komunikasi selama penarikan, penggunaan alat pelindung diri, dan pengawasan personel kompeten.

Penyebab Gangguan Kabel Bawah Tanah

Gangguan kabel dapat terjadi akibat berbagai faktor.

Kerusakan Mekanis

Kerusakan dapat disebabkan penggalian, alat berat, tekanan tanah, tikungan berlebih, atau kesalahan selama cable pulling.

Kegagalan Joint

Joint yang terkontaminasi, tidak presisi, lembap, atau tidak dipasang sesuai prosedur dapat menjadi titik lemah sistem.

Masuknya Air

Air dapat masuk melalui kerusakan outer sheath, terminasi, sambungan, atau ujung kabel yang tidak tertutup dengan baik.

Suhu Berlebih

Kabel dapat mengalami overheating apabila beban melebihi kapasitas, pelepasan panas terganggu, jarak antarkabel terlalu rapat, atau terdapat sumber panas di sekitar jalur.

Kesalahan Bonding

Bonding yang tidak sesuai dapat meningkatkan arus pada sheath, rugi-rugi daya, suhu kabel, dan tegangan sentuh.

Penuaan Isolasi

Paparan termal, listrik, mekanis, dan lingkungan dalam jangka panjang dapat menurunkan kemampuan isolasi.

Pemeliharaan Kabel Bawah Tanah

Walaupun berada di bawah permukaan, kabel tetap memerlukan inspeksi dan pemeliharaan berkala.

Kegiatan yang dapat dilakukan meliputi:

  • Pemeriksaan manhole dan cable trench.
  • Pemeriksaan kondisi terminasi.
  • Pemeriksaan joint dan link box.
  • Pengukuran arus sheath.
  • Pemeriksaan sistem grounding.
  • Pemeriksaan korosi.
  • Pengujian integritas outer sheath.
  • Pemantauan suhu kabel.
  • Pemeriksaan partial discharge.
  • Pembersihan area terminasi.
  • Pemeriksaan drainase.
  • Pembaruan peta jalur kabel.
  • Pengendalian aktivitas penggalian di sekitar jalur.

Teknologi Distributed Temperature Sensing dapat digunakan untuk memantau suhu sepanjang kabel dengan memanfaatkan serat optik. Data tersebut membantu operator mengenali titik panas dan perubahan kondisi operasi.

Apabila terjadi gangguan, fault locator dapat digunakan untuk memperkirakan lokasi kerusakan. Hasilnya kemudian dikombinasikan dengan data jalur dan pemeriksaan lapangan agar penggalian dapat dilakukan pada lokasi yang lebih tepat.

Keunggulan Kabel Bawah Tanah

Kabel bawah tanah memiliki beberapa keunggulan:

  • Tampilan lebih rapi.
  • Tidak membutuhkan tower di sepanjang jalur.
  • Lebih terlindungi dari angin dan pohon tumbang.
  • Cocok untuk kawasan padat.
  • Mengurangi gangguan visual.
  • Dapat dipasang melewati jalur tertentu menggunakan HDD.
  • Memberikan alternatif penyaluran di area dengan ruang terbatas.

Kekurangan Kabel Bawah Tanah

Beberapa keterbatasannya adalah:

  • Biaya konstruksi lebih tinggi.
  • Instalasi lebih kompleks.
  • Pelepasan panas lebih terbatas.
  • Pencarian gangguan membutuhkan peralatan khusus.
  • Proses perbaikan dapat memerlukan penggalian.
  • Jointing membutuhkan tingkat kebersihan tinggi.
  • Dokumentasi jalur harus sangat akurat.
  • Perubahan rute setelah pemasangan sulit dilakukan.
  • Waktu perbaikan dapat lebih lama dibandingkan saluran udara.

Kesimpulan

Instalasi kabel bawah tanah merupakan pekerjaan kelistrikan yang membutuhkan perencanaan, ketelitian, dan pengendalian mutu tinggi. Keandalan sistem tidak hanya ditentukan oleh kualitas kabel, tetapi juga metode pemasangan, kondisi termal tanah, sistem duct, jointing, terminasi, grounding, bonding, pengujian, dan pemeliharaan.

Tahapan pemasangan harus dimulai dari survei jalur dan perhitungan engineering, kemudian dilanjutkan dengan penggalian, pembangunan duct bank, cable pulling, jointing, terminasi, pengujian, serta dokumentasi as-built.

Dengan desain yang tepat dan pelaksanaan oleh tenaga kompeten, kabel bawah tanah dapat menjadi solusi penyaluran listrik yang aman, andal, dan sesuai untuk kawasan industri maupun perkotaan dengan keterbatasan ruang.